Makna Tuhaniah

Aneh. Kenapa dia bisa sukses? Padahal saya tahu dia orangnya seperti apa. Beribadah saja hampir tidak pernah. Sedangkan saya gagal. Padahal saya rajin beribadah.Bagaimana Tuhan ini…??
Pernyataan di atas adalah sebuah pernyataan manusiawi. Pernyataan yang saya piker sangat realistis untuk dilontarkan. Namanya juga manusia, yah pertanyaannya manusiawi namanya. Tapi saya yakin pertanyaan itu hanya terlontar dari manusia yang sering beribadah dan sering ngobrol ngalor ngidul dengan tuhannya.
Kalau yang tidak pernah beribadah, pasti tidak pernah terpikirkan untuk menyalahkan, atau paling tidak memojokkan, Tuhan. Tetapi berbeda dengan manusia yang sering  beribadah, tapi ibadahnya karena “sesuatu“, pasti jika kegagalan menghampirinya akan memojokkan Tuhannya.  Tuhan ko dipojokkan, wong Tuhan maha besar. Seharusnya malah kita sebagai manusia yang terpojok olehNya. Tapi sekali lagi, saya masih memaklumi pernyataan di atas. Coba kalau kita analogikan sebagai pekerja dari seorang bos. Kita telah berbuat baik, pasti bos akan berlaku baik kepada kita. Tapi ini malah sebaliknya, Tuhan telah membuat kita mengalami ”kegagalan”, padahal kita sudah menuruti perintahnya.
Ah, tapi saya berusaha yakin, dan mungkin memang seharusnya kita sama-sama yakin, bahwa Tuhan itu menyapa dengan hangat hambanya dengan jalan yang berbeda. Dan kita hambanya diminta untuk mencari cara yang lebih spesifik untuk mendapat sapaan hangatnya. Mungkin juga “kegagalan” dan “keberhasilan” Rabbani, berbeda dengan “kegagalan” dan “keberhasilan” versi hamba yang beribadah. Mereka yang berhasil , walaupun jarang sekali bersapa dengan Tuhannya, mungkin sengaja disapa hangat oleh Tuhannya untuk menguji rasa syukur dia. Sedangkan kita yang gagal, walau rutin bersapa dengan Tuhan, mungkin sedang sengaja di uji kesabarannya dan keikhlasannya.
Ah, tapi saya yakin kita sebagai manusia masih sangat susah masuk kedalam pengertuan tuhaniah. Berlabuh pada pengertian di permukaannya saja, seperti pemahaman di atas, agak susah-susah gampang. Tapi yang pasti Tuhan punya makna. Dan kita jika ingin mendapatkan “tiket surga”-Nya harus bisa masuk, paling tidak berada di depan kamar pengambilan “tiket surga” tersebut.

No comment »

Lagi… Tentang DOA (untuk adik dari Sofyan Tsauri )

Semalam, sekitar jam 22.30 WIB, aku ke kantor untuk mengambil HP-ku yang tertinggal. Semula berniat untuk tidak mengambilnya, lalu ada perasaan aneh yang muncul. Perasaan tak enak. Akhirnya aku putuskan untuk mengambilnya.
Ketika HP sudah berada di tangan, kulihat ada beberapa SMS. Setelah kubuka, ternyata SMS "biasa". Setelah beberapa lama, tepatnya saat berada di atas punggung sepeda motorku, ada SMS diterima. Namun karena saat itu aku sedang berada di jalan, kuputuskan untuk menunda untuk membacanya.
Setelah sampai di kosan, aku baca SMS. Sebuah SMS dari sofyan (juragan) tsauri:
===========================================================
"Assalamualaikum. Sekiranya sahabat malam ini bertahajud, sayah nitip doa untuk kesembuhan Riyadhul Badiah, adik sayah yg saat ini dalam kondisi kritis."
===========================================================
Membaca pesan darinya langsung saja aku balas:
===========================================================
"Semoga lekas sembuh."
===========================================================
Aku berpikir, semoga saja setiap huruf dalam pesanku itu dihitung sebagai satu doa. Sehingga akan banyak doa yang memberikan energi positif ke alam untuk menyembuhkannya. Dan ternyata inilah jawaban dari perasaan aneh dan yang akhirnya memaksaku untuk mengambilnya, meski saat itu aku sudah sempat terlelap tidur.
Pagi tadi aku coba tanya kabar perkembangannya. Dia lalu menjawab:
===========================================================
"Masih belum sadar, rid. Ada pendarahan di otaknnya. Ntar sore insya allah aku pulang."
"Semoga lekas sembuh, Sof"
"Makasi"
===========================================================

Comments (1) »

DOA

Iman kita mengharuskan untuk meyakini TAKDIR. bahwa semua kehidupan telah termaktub. Lantas dimana posisi DOA.
Apakah DOA dapat mengubah TAKDIR, ataukah DOA hanya sebuah pembawa spirit positif yang akan membuat seseorang berada pada lintasan sunnah yang positif?
Ah, masih terlalu pagi sepertinya untuk berbicara tentang ini. Lebih baik saya berDOA pagi ini.
Sebuah Doa di Pagi ini, Ya Allah…:
- Jaga kesehatan orang tua saya, dan para orang tua lainnya.
- Luluskan adik saya, dan para adik lainnya.
- Berilah kesembuhan atas adik dari SOFYAN TSAURI, dan juga orang-orang lainnya yang sakit.
AMIN.

No comment »

Tuhan telah berhenti menulis

Apakah Tuhan membutuhkan atau dibutuhkan.
yang harus dilihat siapakah yang menjalankan kisah
bagaimana dialog-dialog dan sikap acuh, senang, menangis dan lelah
kalau kita berani bertanya, Dimana Kebenaran?
itu juga adalah sebuah skema yang telah tertulis pada batang pohon yang keras
namun kalau kita malu dan hanya bergumam dalam hati, Apakah ini nyata?
tulisan pada batang pohon yang keras tak akan pernah ada,
yang ada adalah tulisan lain di atas kertas putih pada meja diruangan kosong
dan dibalik jendela tampak pohon berbatang keras.
yang pasti, Tuhan telah berhenti menulis
apalagi di atas kertas putih pada meja diruangan kosong
dan dibalik jendela tampak pohon berbatang keras.

Comments (1) »

Syariat Ayo, Hakikat Monggo…

Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Saya yang merasa panas di dalam rumah, mencoba mencari kesejukan angin malam. Malam itu saya keluar untuk sekedar berjalan-jalan. Seperti biasa memang kalau saya tak bisa tidur, entah itu karena merasa kepanasan di dalam rumah atau memang karena ada masalah yang dipikirkan. Saya pergi keluar rumah.

Kali ini saya mencoba berjalan lewat pintu belakang rumah saya. Karena memang saya ingin menuju jalan raya untuk sekedar melihat kendaraan lalu lalang di bawah terang lampu jalan. Namun ketika melewati suatu warung saya menemukan Ivan dan Yomi sedang asyik di dalamnya. Mereka sedang ngopi kelihatannya. Tanpa menunggu waktu lama, saya langsung masuk ke warung itu untuk menegur mereka.

Dan ternyata ketika saya tegur mereka tak begitu terkejut. Ketidak-terkejutan mereka, karena mereka sedang serius berdiskusi suatu masalah.

“elu, Id.” Yomi yang saya tegur hanya menjawab demikian. Lalu mereka kembali melanjutkan diskusi mereka.

“Tapi, menurut gue, syariat itu kepentingannya seperti pentingnya tanda-tanda lalu lintas di jalan raya.” Yomi bicara dengan sangat serius.

“Waw, ngomongin masalah syariat yah?” Saya sedikit tertarik dengan bahasan diskusi di lewat tengah malam itu.

“Iya.” Yomi yang sedang serius bicara dan terpotong oleh pertanyaan saya tadi langsung menjawab dengan agak sedikit kesal.

“Van, coba elu lihat di sana,” Yomi menunjukkan tangannya keluar warung. “Lihat lampu lalu lintas itu. Coba kalau elu pikirin ga ada itu, bagimana jadinya?”

“Mungkin akan terjadi kecelakaan.” Saya yang tidak ingin kelewatan pada diskusi ini langsung menjawab pertanyaan yang Yomi lontarkan, sebenarnya, untuk Ivan.

“Nah, elu bener, Id. Pasti akan terjadi kecelakaan di sana-sini.”

“Apakah tidak mungkin, kalau banyak orang yang telah sadar akan etika bagaimana hidup bersama, walaupun tanpa adanya marka atau lampu lalu lintas itu, tidak terjadi kecelakaan di sana-sini?” Ivan langsung melemparkan pertanyaan yang bersifat kemungkinan.

“Ngga bisa. Tetep harus ada, tuh, yang namanya marka jalan atau lampu lalu lintas. Saya yakin kita akan tidak aman berada di jalan kalau tidak ada aturan lalu lintas itu.” Saya kali ini memihak Yomi.

“Betul. Gua setuju, Id, ama apa yang elu omongin barusan. Kita ngga bakalan aman kalau tidak ada yag namanya aturan lalu lintas.” Yomi senang sepertinya karena mendapat belaan dari saya.

“Tunggu, kan saya bilang, kalau banyak orang yang sudah mengerti akan etika hidup bersama di jalan. Ingat, yang saya bicarakan adalah suatu yang ideal.” Ivan bicara sambil tersenyum dan terlihat sangat tenang. Memang itulah pembawaannya, tenang.

“Ah, ngga mungkin tuh, bakalan kaya gitu. Menurut gue, non-sense ama yang namanya kondisi yang ideal. Tetep perlu ada yang namanya tanda-tanda lalu lintas di jalan raya. Jadi kalo menurut gue, syariat itu yah seperti tanda di jalan itu. Penting dan kaga bisa di tawar-tawar.” Yomi bicara dengan sedikit emosi.

“Jika kita kembalikan masalahnya ke masalah syariat, berarti, menurut sampeyan syariat itu tidak perlu lagi digunakan ketika orang-orang sudah banyak yang mengerti bagaimana cara menuju Tuhan?” Saya bertanya kepada Ivan.

“Bukannya ada suluk atau jalan hakikat untuk menuju Tuhan?” Ivan balik bertanya.

“Menurut gue. Pokoknya ngga ada tuh ceritanya orang yang kaga sholat masuk surga. Orang yang kaga puasa di bulan ramadhan itu kaga masuk neraka. Biar dibilang dia itu penganut ajaran hakikat atau apalah.” Yomi emosi lagi.

“heh…,” Ivan tersenyum sebentar. Dan langsung segera menjawab argumen yang sedikit emosi dari si Yomi dengan ketenangannya. “Yom, pada dasarnya, saya pribadi, ingat kata-kata saya, saya pribadi, setuju dengan pendapatmu. Kenapa saya bilang saya pribadi, karena yang mengerti kadar ketakwaan dan kedekatan saya sama Gusti Alloh, adalah saya pribadi, bukan kamu, dan bukan Aid.”

“Tapi, mbo ya kita dewasa sedikit dengan tidak menyalahkan orang begitu saja karena ia berbeda dengan kita. Bahwa mereka tidak menjalankan syariat yang ada namun berjalan menuju Tuhannya dengan suluk hakikat. Toh, ya sama-sama menuju Gusti Alloh.”

“Terus tadi saya bilang, saya sebenarnya setuju dengan pendapat kamu. Karena saya tahu kadar kedekatan saya sama Gusti Alloh. Saya masih membutuhkan aturan yang bisa mengingatkan saya sama Gusti Alloh. Saya masih memerlukan panduan hukum untuk sekedar dekat dengan Gusti Alloh. Jelas, saya masih membutuhkan sebuah syariat. Mungkin juga kamu, mungkin juga Aid.”

“Tapi, banyak orang yang sudah bisa dekat bahkan merasa menyatu dengan Tuhan tanpa menjalankan sebuah syariat yang kita anut. Nah, orang-orang itulah yang saya bilang tadi sebagai orang-orang yang sudah mengerti etika hidup bersama ketika berada di jalan raya. Dengan ada atau tidak adanya tanda-tanda lalu lintas, mereka mengerti bahwa ketika ada yang sedang menyebrang harus mengurangi kecepatan, ketika mengendarai kendaraan di sekitar perumahan, tidak ngebut. Atau ia tahu bahwa pejalan kaki harus berjalan di sebelah kiri, karena akan membahayakan dirinya. Seperti itulah gambaranya.”

“Namun, saya lebih cenderung mengatakan bahwa kita sebagai manusia masih sangat membutuhkan aturan, masih sangat membutuhkan sebuah syariat yang akan mengatur dan memberikan sebuah perdamaian yang berdampak pada sebuah ketenangan. Kenapa demikian? Karena kita ketahui bahwa sifat kebanyakan manusia, apalagi sekarang ini, adalah cenderung lebih mudah membuat keonaran dari pada melakukan kebaikan. Lebih mudah berbuat dosa dari pada melakukan kebajikan. Dengan keadaan seperti ini, bagaimana mungkin, jika tanpa aturan, akan terjadi keseimbangan dan perdamaian. Pasti yang ada saling gontok-gontokan. Saling bunuh-bunuhan. Saling tuduh-tuduhan. Dan saling-saling lainnya. Bayangkan, sekarang aja, dengan banyak aturan di sana-sini, manusia masih saja tidak mematuhinya. Apalagi tidak ada tuh yang namanya konsekwensi sebuah ketidak-taatan pada hukum atau, syariat dalam hal ini.”

“Jadi menurut saya, untuk saya pribadi masih sangat memerlukan sebuah syariat untuk ingat kepada Gusti Alloh. Terlepas dari ketidak-tahuan saya tentang apakah kebanyakan manusia memang harus menggunakan syariat karena suatu keadaan atau kondisi sifat kemanusiaan yang memang telah ditakdirkan seperti adanya oleh Gusti Alloh. Tapi, tetap. Saya pribadi tidak punya ke-otoritasan untuk mengatakan bahwa seorang yang berjalan menuju Tuhan tanpa menjalankan sebuah syariat adalah sebuah kesalahan. Jadi menurut saya, SYARIAT AYO, HAKIKAT MONNGO….”

Lama saya dan Yomi terdiam. Kami hanya mendengarkan Ivan yang bicara dengan nada tidak menggurui. Dan tidak memaksakan kehendaknya untuk diikuti dan disetujui. Karena ia selalu saja mengatakan menurut pribadi saya… menurut pribadi saya…..

Dan tak terasa waktu sudah mendekati pukul 2 pagi. Dan tanpa adanya keputusan bahwa saya atau Yomi setuju dengan penjelasan panjang lebar Ivan, kami semua memutuskan untuk pulang.

No comment »

Ulang Tahun di Warung Nasi Uduk

Perbincangan di warung nasi uduknya Mpo Lilis. Saat saya, Ivan, Ubay, dan Yomi sedang makan nasi uduk lalu datanglah Om Kur.

Om Kur    : Assalamu’alikum….

Kami       : Wa’alikum Salam…

Saya       : Eh, Om Kur.

Om Kur   : Ap kabarnya nih anak-anak muda?

Ivan        : Om Kur, kaya sudah tua aja. Wong masih kelihatan muda ko.

Om Kur    : Iya, nih. Hari ini jadi semakin tua karena tambah umur.

Ubay       : Lho, hari ini Om Kur ualng tahun?

Om Kur   : Ya gitu deh.

Ubay      : Wah, kalau gitu selamat ulang tahun Om. Mudah-mudahan selalu bahagia dan hidup senang serta dijauhkan dari bala bencana.

Om Kur  : Doa sampeyan panjang banget, Bay?! Makasih deh.

Saya      : Selamat juga Om. Mudah-mudahan dipanjangkan umurnya.

Ivan      : Selamat yah Om, semoga selalu berada dalam lindungan Gusti Alloh.

Yomi     : Iya saya juga ucapin selamat yah Om. Semoga-moga tambah kaya. Biar bisa traktir kita-kita di sini. Hehehe…..

Om Kur  : Makasih yah anak-anak muda. Ya udah sekarang makan aja nasi uduknya Mpo’ Lilis gratis. Saya traktir lah.

Ubay      : Wah jadi ga enak nih, Om. Harusnya ga usah didengerin omongannya Yomi. Tapi kalau emang Om Kur maunya traktir kita-kita ya ga apa-apa lah.

Saya & Yomi      : Yeh…………. (sambil menempeleng kepalanya Ubay).

Om Kur   : Ya udah. Tapi saya harus segera kembali ke rumah. Lagi ada mertua.

Saya       : Oke Om, Makasih banyak yah….

Om Kur   : Yah, sama-sama. Makasih juga doanya.

Selagi kami makan, tiba-tiba Ubay nyeletuk bertanya kepada Ivan)

Ubay     : Van, kenapa ente tadi doanya untuk Om Kur simpel banget?Ivan       : Masa simpel?

Ubay     : Iya. Semoga selalu berada dalam lindungan Gusti Alloh.

Ivan      : Menurut saya itu ga simpel ko.

Ubay     : Memangnya apa maksud doanya itu?

Ivan      : Saya cuma ngucapin suatu yang wajar dan, menurut saya, semestinya.

Ubay     : Wajar? Jadi menurutmu doa-doa kita tadi tidak wajar?

Ivan     : Menurut saya, hidup tidak akan selalu mudah dan hidup tidak akan selalu bahagia. Karena bukannya hidup namanya kalau tidak ada kesedihan, tidak ada kesulitan. Gambaran kehidupan yang benar ada dalam surah Al-Insyirah, bahwsanya ada sulit dan juga ada mudah, ada senang dan juga ada sedih. Saya pikir mendoakan supaya selalu hidup bahagia, selalu dimudahkan, dijauhkan dari bala bencana adalah suatu gambaran kehidupan imajiner. Dalam arti, menyalahi definisi kehidupan yang diberikan oleh Tuhan. Karena tidak mungkin hidup itu akan bahagia terus, tidak mungkin hidup itu akan mudah selalu. Oleh karena itu saya cuma mendoakan Om Kur, semoga selalu berada dalam lindungan Gusti Alloh. Jadi sedih-senang, mudah-sulit-nya yang beliau rasakan tetap berada dalam lindungan Gusti Alloh. Tidak lupa sama Gusti Alloh.

Yomi    : Menurut lu, bagaimana kita menyikapi ulang tahun, Van?

Ivan     : Senang..

Yomi    : Iyah, gue setujuh banget tuh. Emang kita harus senang.

Ubay    : Lho, bukannya seharusnya kita sedih bahwa umur kita malahberkurang satu tahun? Berarti ajal kita semakin dekat.

Saya   : Betul. Sejatinya kan bukan umur kita bertambah, namun berkurang.
Ivan     : Memang sejatinya umur kita berkurang, tapi bukan berarti kita harus bersedih. Namun  seharusnya kita menyikapi dengan penuh kegembiraan bahwasanya sebentar lagi kita akan bertemu dengan Gusti Alloh.

Comments (1) »

Wida Bicara Maulid Nabi dan Wafatnya Isa Al-Masih

Hari telah mulai senja hari itu. Jam telah menunjukkan pukul 16.30 WIB. Saya kedatangan tamu, teman lama waktu SD. Seorang wanita dewasa nan ayu dan berpenampilan menarik. Sangat berbeda sekali saat waktu SD dulu.

Beliau datang untuk sekedar mampir dan ngobrol mengingat-ingat kejadian di waktu SD dulu. Akhirnya kita banyak saling bicara. Tentang inilah, tentang itulah. Sampai akhirya tanpa disadari kita bicara soal yang sangat sensitif, yaitu agama.

“Oh iya. Minggu kemarin kamu merayakan Maulid Nabi Muhammad yah? Selamat deh.” Disamping smart, Wida nampaknya adalah seorang wanita yang sangat toleran terhadap perbedaan.

“Eh, iya,” saya menjawab dengan ragu. “Oh iya, Setahu saya hari ini adalah hari peringatan wafatnya isa al-masih yah?” saya balik bertanya.
“Benar.”
“Ko, kamu ngga ge gereja?”
“Sudah tadi,” dia menjawab dengan sangat dingin, seperti ada yang sedang dia pikirkan. Lalu ia melanjutkan bicaranya, “Entah mengapa saya sangat sedih dengan kehidupan sekarang ini.”

“Kenapa memangnya, Wid.” Saya bertanya.
“Padahal ada dua hari yang sangat besar dan bersejarah dalam satu minggu ini. Yang apabila kita semua sadar dan dapat memaknainya, maka saya yakin dapat merubah kehidupan kita di dunia ini, khususnya di negara kita ini, yang sekarang terasa carut-marut, menjadi suatu yang penuh damai dan kasih serta penuh rahmat.”

Saya agak kaget dengan ucapanya. Ternyata kedewasaannya dalam berpenampilan juga berdampak pada kedewasaanya dalam beragama.

“Maksudmu dengan dua hari besar dan bersejarah adalah Hari Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Wafatya Isa Al-Masih?”

“Betul.”
“Kalau begitu, memang apa makna dua hari besar itu yang seharusnya bisa kita ambil sebagai penawar kehidupan yang sekarang ini sudah agak keblinger?”

“Tentang Maulid Nabi Muhammad SAW, katakan kalau saya salah. Adalah kejadian kelahiran seorang suci di tengah-tengah zaman yang dahulu dibilang dengan sebutan zaman jahiliyah. Jahiliyah sesuai bahasa adalah bodoh, jadi dapat dikatakan bahwa Muhammad lahir pada masa dimana orang-orang disekelilingnya adalah bodoh. Bodoh di sini mempunyai arti yang tidak sempit. Bisa dikatakan sikap-sikap yang arogan, menistakan wanita, mengurangi takaran, menyebah berhala, saling membunuh, tindak asusila, sampai tindakan korupsi. Nah, ketika kebiasaan jahil itu berlangsung, Tuhan dengan skemanya yang suci melahirkan seorang Muhammad sebagai tangannya dalam merubah semua macam tindakan bodoh yang ada ditengah-tengah kehidupan masyarakat arab saat itu.”

“Jadi menurutmu sekarang ini kita, sepertinya, kembali ke masa-masa jahiliyah?” Saya bertanya.

“Tidak secara waktu, namun, ini menurut saya, sikap hidup kebanyakan kita sekarang sepertinya menggambarkan sikap jahiliyah yang dulu pernah ada. Ya sikap-sikap yang saya sebutkan tadi seperti arogan, menistakan wanita, mengurangi takaran, saling membunuh, tindak asusila, sampai tindakan korupsi sekarang ini telah menjadi suatu budaya wajar yang bahkan sepertinya sudah mendarah daging.”

“Nah, sejatinya usaha Muhammad untuk mengubah masyarakatnya kearah masyarakat madani adalah sebuah simbol. Bahwasanya kita yang sadar akan keberadaan kita di tengah-tengah kebodohan massal, seharusnya bisa meniru Muhammad untuk berusaha merubahnya ke arah yang madani dan selaras. Paling tidak merubah diri sendiri ke arah yang baik. Sadar akan hak dan kewajiban kita sebagai warga negara dan warga beragama, beserta batasan-batasannya. Saya rasa kesadaran itu sudah sangat cukup untuk menjadikan masyarakat kita sekarang menuju masyarakat madani yang pernah dicapai Muhammad dahulu.”

“Lalu, sekarang adalah peringatan Hari Wafatnya Isa Al-Masih. Pertanyaannya, apa yang harus kita maknai dengan hari yang bersejarah ini?” Saya kembali bertanya.

“Sepertinya kamu sudah tidak sabar lagi ya, Id. Begini, sebelum kita mengambil maknanya, kita harus tahu kejadiannya. Kamu pernah nonton filmnya Mel gibson?”

“Hm……,” saya mencoba mengingat. “Oh, Passion of The Christ! Cerita ketika Yesus disiksa dan kemudian di salib.”

“Yup, betul. Saat itu kejadian di mana Yesus Kristus mengalami penderitaan luar biasa akibat dari sikapnya, yang bagi kerajaan saat itu sangat meresahkan. Sehingga Yesus harus di hukum dan di salib. Memang pada film itu kita tidak tahu, apakah berlebihan atau tidak siksaan yang dilakukan. Namun yang pasti saat penyiksaan itu berlangsung kita dapat melihat betapa kuatnya dan tegarnya Yesus. Ketika menuju bukit penyaliban, Yesus sempat terjatuh beberapa kali, namun ia tetap berdiri kembali meskipun menahan penderitaan luar biasa yang dia alami dan beliau terus saja menyebut ‘Tuhan Bapa’ sebagai daya menambah kekuatan untuk melawan rasa sakit yang sangat.”

“Oh, saya tahu apa makna yang harus kita ambil pada kejadian itu, Wid. Menurut saya, kejadian itu adalah simbol bahwasanya kehidupan tidak akan pernah terhindarkan dari apa yang namanaya cobaan. Oleh karena itu kita seharusnya bisa lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.” Saya coba mendahului Wida untuk menjelaskan makna dibalik peristiwa penyaliban Yesus.

“Saya setuju dengan pendapatmu, namun menurut saya, tidak sesimpel itu, Id. Lagi-lagi ini menurut saya, bahwasanya perjuangan untuk merubah suatu yang tidak baik menjadi suatu yag baik, seperti tugas yang pernah diemban Yesus Kristus dahulu, pasti tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pasti ada yang namanya sandungan, entah itu berupa cobaan atau apapun namanya. Namun kita harus yakin bahwasanya kebaikan adalah tetap kebaikan yang tidak akan pernah kalah. Karena Tuhan yang menuliskan semua kejadian hidup adalah wujud kebaikan itu sendiri. Buktinya sampai sekarang ajaran Yesus Kristus masih saja eksis walaupun Yesusnya telah lama disalib dan dibunuh.”

Kami sempat terdiam sejenak. Saya lihat dia agak haus akibat bicaranya yang sangat semangat. Namun tetap tidak menghilangkan kecantikannya. Jujur, ketika dia berbicara dengan semangat tadi, dia kelihatan semakin cantik.

“Minum dulu, Wid.” Saya menyilahkannya minum.
“Terima kasih, Id. Memang agak haus nih.” Dia langsung meminum air sirup rasa jeruk yang tepat dihadapanya.
“Sekalian makanannya dicicipi, Wid”
“Nanti aja, pebicaraan kita kan belum selesai.” Dia meletakkan gelas yang dipegangnya tadi.

“Oke kita teruskan, Wid. Kalau begitu apakah menurutmu kejadian-kejadian itu, yang notabene diperingati oleh agama yang berbeda, mempuyai korelasi untuk merubah kehidupan sekarang ini?”

“Pertanyaan bagus, Id. Saya pikir ini anugerah Tuhan yang diberikan kepada kita sebagai manusia beragama diberikan waktu untuk melakukan pertaubatan dan kesadaran secara berbarengan. Tinggal kita manusianya, ingin berubah atau tidak. Ingin mengambil makna atau tidak. Nama agama kita memang berbeda, namun esensi dari keberagamaan kita sama, yaitu MENJADI BAIK, PRIBADI MAUPUN MASYARAKATNYA.”

Akhirnya pembicaraan kami benar-benar dihentikan oleh adzan maghrib.

No comment »

Kang Aid (nyoba) Memandang Hidup

Kemarin malam di pelataran mushallah setelah pulang dari main bulu tangkis saya coba merebahkan badan saya yang terasa sangat lelah. Memang seperti biasa, untuk melepas lelah saya biasanya mencari sedikit ketenangan di pelataran mushallah dan berbaring menghadap langit yang seperti payung tanpa pondasi.

“Id, ada apa senyum-senyum sendiri?” Ivan datang dan langsung duduk disebelah saya berbaring. Kala itu sambil berbaring, saya memang tersenyum-senyum sendiri. Karena memang ada yang sedang saya pikirkan dan bisa dibilang menggelitik saya.

“Eh, sampeyan bang,” saya langsung mengambil posisi untuk duduk  dan bersandar pada kubah masjid. Kebetulan pelataran mushallah yang saya maksud adalah pelataran di atas mushallah. Dan untuk sampai di atas adalah dengan menaiki anak tangga dari bambu yag ada di samping mushallah.

“Saya lihat kamu tersenyum sendirian. Kalau tidak ada yang dipikirkan, berarti kamu sudah stres pasti. Wah saya bakalan kehilangan satu teman nih”

“Enak aja sampeyan ngomong. Wong saya masih normal.”

“Kalau masih normal, berarti ada yang lagi di pikirin dong?”

“Iya, sampeyan bener, Bang.

Ada

yang sadang saya pikirin dan agak menggelitik saya.”

“Apa yang dipikirin memangnya?”

“Kenapa ada kesenangan dalam batin saya, ketika saya dipercundangi, baik langsung atau pun tidak langsung, oleh seseorang?” saya sedkit melirik ivan yang sedang membenarkan kain sarungnya yang melibat di lehernya. “Menurut saya, rasa itu kebalikan dari umumnya manusia. Yang apabila dipercundangi, maka akan merasa sedih dan tidak bahagia.”

“Memang apa yang membuat kamu senang disaat kamu dipercundangi?” Ivan bertanya dengan posisi yang sudah mulai agak nyaman.

“Saya merasa senang ketika melihat orang lain senang, meskipun saya yang menjadi ‘korban’ ataupun ‘sebab’ yang membuatnya menjadi senang,” Saya menjawab sambil tersenyum. “Nah, perbedaan dengan kebanyakan manusia itulah yang membuat saya tersenyum-senyum sedari tadi.”

“Cuma itu yang membuat kamu tersenyum, tidak ada yang lain?” Pertanyaan ivan kali ini sangat mengagetkan saya. Sepertinya ia tahu bahwa ada hal lain yang membuat saya tersenyum sendirian saat itu.

Ada

, Bang.”

“Penilaian orang terhadapmu?” Kali ini saya benar-benar dikagetkan dengan tebakan yang dilontarkan oleh Ivan.

“Iya, ko sampeyan bisa nebak, Bang?” Saya bertanya sambil tersenyum penasaran. Dan sempat meyakinkan saya bahwa sebenarnya Ivan adalah seorang indigo.

“Nah, sekarang pertanyaanya adalah apakah kamu tahu apa yang menyebabkan munculnya kesenangan kamu terhadap sesuatu yang, pada kebanyakan orang, sesuatu itu akan membuat ketidak-senangan?”

“Apa, Bang?”

“Cara pandangmu tentang hidup”

“Saya benar-benar tidak mengerti maksud sampeyan, Bang. Jujur, saya tidak pernah sampai berpikir sejauh itu, apalagi sampai berpikir tentang memandang hidup. Terlalu rumit bagi saya, Bang.”

“Id.. Id… payah kamu,” Ivan kali ini merebahkan tubuhnya di atas tikar. “Kamu tuh, menganggap kehidupan yang bersifat duniawi ini seperti main-main saja. Mbo ya, sekali-kali mikir serius untuk kehidupan di dunia.”

“Bener tuh, Bang, Ngga tahu yah. Tapi tepatnya bukan main-main tapi seperti permainan. Saya tuh berpikir kehidupan yang bersifat duniawi itu cuma permainan. Jadi tidak perlu ada yang harus ditanggapi dengan serius dan berlebih. Jadi kita akan selalu ikhlas dan ridho atas semua yang terjadi, meskipun hal itu bagi kebanyakan orang adalah suatu yang sangat tidak menyenangkan. Nah, kalau suatu yang berkaitan dengan akhirat baru harus kita tanggapi dengan serius.”

Aneh bin ajaib. Ivan mendengar tanggapan saya tidak dengan mengkritik, namun malah tersenyum senang, seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan dari saya dan sepertinya ia berhasil mengelabui saya, sedangkan saya tidak mengetahuinya.

“Itu namanya kamu sudah pandai memandang hidup,” Ivan berkata demikian sambil menarik hidung saya. Lalu saya berusaha membalasnya namun ia suda menutupi wajahnya. Memang kami sudah sangat akrab sejak lama. Kebetulan ayahnya, Baba Hasan, adalah teman bapak saya.

Setelah keadaan sudah tenang kembali, Ivan langsung berkata, “Tadi main bulu tangkis kalah ya? Terus teman yang tadi ngalahin senang banget karena bisa mengalahkan kamu?

Terus kamu merasa biasa-biasa saja, malah ada kepuasan dalam hatimu karena dapat membuat temanmu itu senang bisa mengalahkanmu.”

Saya hanya bisa terrsenyum lebar karena semua tebakannya yang dia lontarkan. Semua dugaannya kembali menyadarkan saya bahwa teman saya ini sepertinya memang dapat membaca jalan pikiran seseorang.

Lalu ia kembali bicara, “Kamu tahu, Id, kenapa temanmu itu berlebih kesenangannya saat mengalahkan kamu?”

“Kenapa memangnya?”

“Berarti dia menganggap kamu itu, lebih hebat dari padanya”

“haahahaha….” Kami tertawa bersama.

Comments (1) »

Syariat NIKAH : Apakah masih diperlukan (2)

Sebelum saya berpikir untuk mejawab, tiba-tiba dari depan warung Mbo’ Darmi terdengar suara memanggil si Hendra. Dan ternyata itu adalah adiknya Hendra yang kebetulan santri juga, namun sedang menjalani libur panjang setelah ujian akhir semester. Adiknya memanggil si Hendra karena ia di panggil oleh ibunya untuk mengantarkan keundangan tetangganya.

“Id saya dipanggil. Nanti, kapan-kapan, kita teruskan lagi perbincangan kita. Soalnya saya sudah janji dengan ibu saya untuk mengantarkanya keundangan H.Dulloh yang sedang mengadakan resepsi pernikahan putrinya.”

“Ya udah, sana”

“Oke, sampai jumpa yah…”

“Oke”

Seperginya Hedra dari warungnya Mbo Darmi saya agak terganggu dengan pertanyaannya Hendra. Lalu tiba-tiba banyak sekali pertanyaan yang muncul begitu saja dalam benak saya. 

Bukannya hidup bersama tanpa menikah lalu melakukan persetubuhan apalagi sampai punya anak adalah perbuatan zina? Bukannya zina itu, tidak hanya islam saja, namun juga semua agama mengharamkannya? Kalau begitu kenapa kita harus menilai bahwa yang hidup bersama tanpa menikah lebih baik dengan yang nikah-cerai-nikah-cerai? Padahal bercerai itu hanya dibenci bukan diharamkan, namun zina mutlak diharamkan. Kalau memang hanya itu pilihannya, kenapa kita harus mengunguli yang diharamkan, bukan yang hanya sekedar dibenci?

Makan saya siang itu sangat terganggu dengan sederet pertanyaan yang tiba-tiba muncul tadi. Namun saya sedikit menyangsikan kesimpulan saya tadi. Karena Hendra adalah seorang yang berpikir agak liberal tidak literal seperi saya. Saya yakin jika saya menjawab pertanyaannya dengan kesimpulan saya tadi pasti ia akan tertawa dan meledek bahwa saya sangat literal dalam menilai dan memandang suatu yang harusnya terus berkembang cara mengartikannya sesuai dengan zaman dan budaya yang ada. 

Terus saja makan siang saya saat itu disibukkan dengan pemikiran-pemikiran yang terus muncul. Saya lalu coba berpikir seperti cara berpikirnya Hendra. Lalu tiba-tiba banyak sekali ide-ide muncul.

Tapi, kalau memang Hendra hanya ingin fokus dengan pembahasan tentang di angkatnya syariat nikah pada agama-agama bukannya suatu yang terkait dengannya seperti zina, menurut saya pasti ada filosofinya yang lebih tepat dari apa yang disampaikan olehnya atau paling tidak ada pengaruh dari luar yang menyebabkan syariat nikah menjadi suatu yang wajib dilalui untuk membentuk suatu keluarga. 

Misalnya pengaruh watak manusia. Bukannya manusia itu mempunyai nafsu yang jika terlepas atau tak terkendali melebihi nafsunya binatang bahkan lebih darinya? Tanpa sebuah ikatan, nafsu manusia yag ada bahkan punya potensi melebihi nafsunya binatang itu, manusia mungkin dapat dipastikan tidak akan dapat menjaga sebuah hubungan karena memang tidak ada yang mengikat dan ia merasa masih terbebas. Oleh karena itu perlu adanya syariat nikah.

Misalnya yang lain adalah, mungkin saja, budaya, atau lebih tepatnya hukum yang terbiasa disepakati dan dijadikan sebuah panduan hidup dalam suatu masyarakat. Saya merasa yakin bahwa semua hukum yang ada dalam kitab suci agama-agama disyariatkan akibat suatu budaya dalam masyarakat dan juga saya yakin hukum pada kitab suci agama-agama tersebut adalah suatu solusi panduan terbaik dalam menjaga budaya yang baik. Hidup bersama tanpa adanya ikatan nikah, pada budaya kita paling tidak, adalah suatu bentuk pencideraan budaya yang ada. Dan juga mungkin pada kebudayaan yang lain, seperti barat misalnya, syariat nikah merupakan solusi budaya yang baik. 

Akhirya terakhir dalam benak saya muncul sebuah pertanyaan “mengapa kita tidak berani  memilih suatu yang terbaik dari yang baik?”

Lalu tiba-tiba saya dikagetkan oleh kedatangan ivan yang langsung duduk disamping kursi saya dan langsung memesan makanan kepada Mbo’Darmi.

No comment »

Syariat NIKAH : Apakah masih diperlukan

Siang itu di warung sederhananya Mbo’ Darmi, saya yang kebetulan sedang makan siang kedatangan Hendra yang memang terkenal dengan sebutan pemuda yang pandai, sampai-sampai karena kepandaiannya sering kali pemikirannya bersebrangan dengan para tokoh agama di kampung kami, termasuk ayahnya yang juga kiyai terpandang di kampung kami.

Dengan keramahannya, dia langsung menegur saya. Memang Hendra, walaupun sering tidak sependapat dengan kebanyaka kiyai di kampung, dia adalah seorang yang penuh senyum dan ramah.

“Makan, Id?”

“Eh, sampeyan Hen. Iya nih kebetulan perut lapar banget. Sampeyan ga makan?” sambil mengunyah makanan yang sudah terlanjur berada di dalam mulut, saya mencoba menjawab sapaannya.

“Saya ga lapar, cuma mau ngopi aja. Kebetulan lagi suntuk banget.”
“Oh, saya tahu kenapa sampeyan suntuk, Hen.”
”Sok tahu kamu. Memangnya kenapa?”
“Hen, Hen…, wong teman-teman di sini tuh, udah pada tahu kisah perdebatan anak yang santri dengan ayah sang kiyai.”
“hm…..,” Hendra tersenyum dengan tebakan sok tahu saya yang ternyata memang benar dan langsung dibenarkan olehnya. “benar kamu, Id. Saya memang habis berdebat dengan ayah saya.”
“Tentang apa kali ini, Hen?”
“Nikah”
“Kamu dijodohkan?”
“Yeh… bukan begitu”
“Terus…?” tanya saya dengan penuh penasaran.
“Masalah pandangan tentang nikah”
“Maksudnya?”
“Sekarang saya tanya ke kamu. Apa sebenarnya tujuan diberlakukannya syariat nikah?”

Saya sempat berpikir bahwa pertanyaannya sangat sederhana namun untuk menjawabnya saya butuhwaktu banyak untuk berpikir. Sedang saya termasuk orang yang awam bukan yag alim lagi santri seperti si Hendra.

“hm….. mungkin untuk menghalalkan penyaluran nafsu, juga untuk memperbanyak keturunan.”
“Oke, itu kita simpan. Tapi menurut saya tujuannya yang tepat adalah agar supaya mengikat kesetiaan seseorang pada seseorang sehingga menghidarkan dari segala macam bentuk pengkhianatan,” Hendra bicara sambil menenggak kopinya yang masih hangat. Lalu meneruskan kembali “Pada dasarnya pengkhianatan adalah suatu yang alergi jika disandingkan dengan kedamaian. Oleh karena itu syariat nikah dimunculkan untuk menjaga perdamaian dan menghindarkan pengkhianatan.”

Saya sedikit mengeryitkan dahi, dan dengan berjalannya waktu, tiba-tiba dalam pemikiran saya, apa yang telah diutarkan oleh Hendra adalah benar.

“Saya cenderung setuju dengan pendapat sampeyan, Hen”
“Nah, sekarang saya tanya sama kamu. Dengan prinsip dasar yang telah kita sepakati tadi. Pertama, sepasang kekasih yang saling menyintai dan berkeyainan bahwa mereka akan setia sehidup-semati dan mereka saling menyanggupi bahwa mereka tidak akan saling mengkhianati, apakah tanpa melalui jalur syariat nikah adalah suatu kesalahan? Kedua, apakah menurutmu seseorang yang hidup bersama tanpa menikah, namun mereka tetap pada kesetiaanya untuk selalu hidup bersama, tidak lebih baik dengan seseorang yang nikah-cerai-nikah-cerai?

No comment »